Minggu, 05 Oktober 2014

Semangka Emas (Kalimantan Barat)




Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.
 
Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan. Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.
 
Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan.

"Kasihan,Sayapmu patah, ya?" kata Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. 

Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. 

"Biar kucoba mengobatimu," kata Dermawan.

 Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.

Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.

Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.

Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.

Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

Jumat, 03 Oktober 2014

Legenda Pulau Kapal (Sumatera Selatan)







Dahulu,di dekat sungai Cecuruk,hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin.Mereka terdiri dari Ayah,Ibu,dan seorang anak laki-laki yang bernama Kulup.Mereka hidup dengan menjual buah-buahan dan dedaunan ke pasar.Buah-buahan dan dedaunan tersebut mereka dapatkan dari hutan.Mereka juga memakan Rebung yang mereka dapatkan dari hutan dan Rebung itu mereka olah menjadi sayur.Rebung adalah anak pohon bambu yang masih kecil dan Muda.

Kulup merupakan anak yang rajin.Ia sangat rajin dan senang membantu orangtuanya mencari nafkah.Keluarga ini hidup saling menyayangi dan membantu.Karena itu,meski keluarga ini miskin,mereka tidak pernah merasa menderita. Pada Suatu hari,sang ayah pergi untuk mencari rebung di sawah untuk diolah menjadi sayur dan mereka bertiga makan.”Bu,aku akan pergi mencari rebung di hutan untuk kita makan.Jaga Kulup baik-baik ya.”pamit sang suami kepada istrinya.”Baiklah ayah,Aku akan menjaga Kulup baik-baik”Jawab sang istri.

Sesampai di hutan,sang ayah mulai menebang Rebung.Saat menebang Rebung, Sang Ayah saat melihat sebatang tongkat yang berada di rumpun bambu.Saat sang ayah akan membuangnya,ia melihatnya dengan teliti ”Tongkat apa ini?”pikirnya.Ia membersihkan tongkat itu.Alangkah terkejutnya dengan apa yang ia lihat,yaitu adalah kilauan permata dan berlian yang menempel pada tongkat itu

”Wah,siapakah pemilik tongkat ini,pasti dia merasa kehilangan,atau,aku bawa pulang saja tongkat ini”.Sang Ayah lalu memutuskan untuk membawa pulang rebung dan tongkat itu.

Sesampainya di rumah,Sang Ayah merundingkan benda yang didapatkannya tadi dengan keluarganya.”Mau disimpan dimana tongkat ini?Kita kan tidak punya lemari”tanya Ayah Kulup,”Kalau kita simpan di luar,nanti dicuri orang”ucap sang istri.

“Begini saja,bagaimana kalau kita jula saja tongkat ini ke kota?”usul Si Kulup.Ayah dan Ibunya menyetujuinya.Mereka lalu menyuruh Kulup untuk menjualnya ke kota.

Si Kulup lalu pergi berlayar ke kota.Disana,ia menjual tongkat itu hingga dibeli oleh seorang saudagar kaya dengan harga yang mahal.Tetapi,Si Kulup tidak mau pulang ke rumahnya,melainkan tinggal di rantauan. Menjadi orang yang kaya raya. Kehidupan Kulup berubah.Ia berteman dengan para bangsawan dan saudagar kaya.Kulup kemudian mempersunting gadis yang merupakan putri dari saudagar kaya.Karena kehidupannya yang serba mewah,Kulup menjadi lupa akan kampong dan kedua orangtuanya. Kulup lalu membeli sebuah kapal besar yang mewah dan mempersiapkan para awak kapal untuk dibawanya pergi berlayar.Mertuanya pun merestuinya.Setelah itu,berangkatlah Kulup bersama istrinya dan para awak kapalnya.Kulup membawa binatang-binatang untuk perbekalan seperti ayam,itik,angsa,burung dan binatang lainnya.

Ketika tiba di muara Sungai Cecuruk,Kulup teringat akan kampung halamannya.Kapalnya kemudian berlabuh di Sungai Cecuruk.Suasana kapal itu ramai dengan suara binatang-binatang bawaan Si Kulup. Berita tentang kedatangan Si Kulup sampai ke kedua orangtuanya.Orangtuanya pun pergi ke Sungai dengan membawa makanan kesukaan Si Kulup.Kedua Orangtuanya lalu pergi menemui Si Kulup. Namun,Si Kulup tidak mau mengakui orangtuanya.Ia malu kalau istrinya tahu bahwa orangtuanya adalah orang yang miskin.Ia menyuruh pengawalnya untuk mengusir Kedua Orangtua Si Kulup.Orangtuanya lalu memberikan Si Kulup makanan kesukaannya.Tetapi,Kulup membuang makanan itu dan berkata “Makanan,apa ini,aku tidak suka makanan gembel seperti ini”

 Orangtuanya pun pulang dengan hati remuk redam.Orangtuanya pun berdoa”Ya Tuhan,bila benar saudagar kaya itu adalah anakku,karamkanlah kapal milik saudagar itu”.Tak berapa lama,hujan turun disertai angina yang berembus kencang.Kapal milik Si Kulup dihantam ombak besar.Kapal itu pun oleng.Penumpangnya panik dan tewas.Kapal itu kemudian menjelma sebagai Pulau yang berbentuk kapal,dan pulau itu dinamakan Pulau Kapal.

Senin, 29 September 2014

Dongeng Anak Dunia: Issun Boshi ( Jepang )

Dongeng Anak Dunia: Issun Boshi ( Jepang ):            Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Suatu hari mereka pergi ke sebuah kuil ...

Selasa, 03 Juni 2014

Asal Mula Nama Palembang



     Pada jaman dahulu kala ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya di Bukit Seguntang Mahameru, di Pantai Sumatera Selatan ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan. Di dalam kapal tersebut terdapat tiga orang penumpang. Mereka adalah tiga orang kakak beradik, putra dari Raja Iskandar Zulkarnain. Ketiga orang ini selamat dari maut, dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru. Mereka disambut oleh Putri Ayu Sundari. Salah seorang dari putra tertua Raja Iskandar Zulkarnai, yaitu Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.

     Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu. Maka, Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang. Nama Lembang semakin terkenal

        Kemudian, ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata "pa" dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau lokasi. Di sana, ekonomi bertumbuh dengan pesat. Orang-orang ramai berdatangan ke daerah tersebut. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur perdagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang.

Senin, 19 Mei 2014

Gadis Landak





Dahulu kala, hidup sepasang suami isteri di sebuah rumah kecil. Adik lelaki sang suami juga tinggal bersama mereka.
Pada suatu hari sang isteri berkata, “Adikmu sudah dewasa. Sudah waktunya menikah. Berikan saja setengah harta kita dan suruh dia mencari tempat tinggal sendiri.” Suaminya tidak tega menyuruh adiknya pergi, tapi isterinya mendesaknya terus.  Akhirnya ia setuju. 
Esok harinya , ia menyuruh adiknya memakai pakaian baru  lalu mengajaknya berjalan-jalan. Mereka berjalan mendaki bukit dan ketika tiba di hutan, sang kakak memberikan sejumlah uang dan mengatakan bahwa sudah waktunya sang adik memulai hidup sendiri. Walaupun sedih, sang kakak menyuruh adiknya pergi dan ia sendiri pulang ke rumahnya.
Sang adik terus berjalan walaupun ia tidak punya tujuan. Malam tiba. Ia melihat sebuah gubuk.  Ia meminta ijin kepada pemburu pemilik gubuk itu untuk tinggal semalam. Malam itu, pemuda itu melihat seekor landak terikat pada tiang. Landak itu terus memandanginya.
“Tuan,” katanya kepada pemburu, “Mengapa kau mengikat landak itu di tiang?”
“Aku akan mengambil kulitnya dan memakan dagingnya.”
“Tapi tuan, lihatlah, landak itu sedih sekali. Tolong lepaskan dia.”
“Aku lelah sekali berburu hari ini, dan hanya landak itu yang kudapat. Tidak, aku tak mau melepaskannya.”
“Kalau begitu, biarlah aku membelinya!” kata pemuda itu sambil menunjukkan uang pemberian kakaknya.
Pemburu menjual  landak itu kepada pemuda itu.  Pemuda itu membawa landak pergi. Setelah cukup jauh dari gubuk pemburu, ia melepaskan tali pengikat  landak dan berkata. “Pergilah jauh-jauh. Kalau kau tertangkap lagi, belum tentu ada yang menolongmu.”
Landak itu memandangi sang pemuda lama sekali. Lalu ia pergi ke semak-semak dan menghilang. Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dan ilalang di dekatnya bergerak-gerak. Alangkah terkejutnya pemuda itu, seorang gadis muda muncul. Gadis itu cantik sekali. Ia membawa sehelai selimut tebal.
“Tuan,” kata gadis itu, “Kau tentu kedinginan.” Ia memberikan selimut yang dibawanya kepada pemuda itu.
“Terima kasih, Nona. Kau baik sekali,” kata pemuda.
“Apakah kau tidak punya rumah?” tanya gadis itu.
“Tentu saja aku punya rumah.”
“Lalu mengapa kau ada di sini?”
Pemuda itu menceritakan perpisahannya dengan kakaknya.
“Apakah kau tidak rindu kepada rumahmu?” tanya gadis itu.
"Aku rindu kepada kakakku, tapi aku tidak berani kembali ke rumah."
“Jangan kuatir, aku akan membawamu ke rumahmu sendiri. Tapi kau harus menikahiku dulu.”
Walaupun agak bingung, pemuda itu setuju. Malam itu mereka mengucapkan sumpah pernikahan dan menjadi pasangan suami isteri.
Esoknya, pagi-pagi sekali, wanita muda itu berkata, “Tutuplah punggungku dengan selimut itu. Lalu naiklah ke punggungku. Berpeganganlah erat-erat dan tutup matamu sampai aku menyuruhmu membukanya.”
Suaminya mengikuti semua perkataan sang isteri. Dan pemuda itu merasa ia sedang terbang. Angin bertiup kencang di telinganya. Tapi dengan patuh ia tetap menutup kedua matanya. Akhirnya, ia mendengar isterinya berkata, “Sekarang kau boleh membuka matamu.” Pemuda itu membuka matanya dan melihat mereka berada di tepi desanya sendiri.
“Suamiku,” kata sang isteri, “Jangan kembali ke rumah kakakmu dulu, ayo kita mencari tempat tinggal kita sendiri.”
Pemuda itu mengajak isterinya ke sebuah kedai.  Ia mengenal pemilik kedai itu. Ia mengenalkan isterinya kepada pemilik kedai dan mereka bercakap-cakap.
“Paman,” kata wanita muda itu, “Kami ingin menetap di desa ini. Dapatkah paman mencarikan sebidang tanah yang akan dijual?’
“Baiklah, aku akan mencarikan tanah yang baik untukmu,” kata paman.
Esok harinya, paman menunjukkan sebidang tanah yang akan dijual, tapi pemiliknya memasang harga yang sangat tinggi. “Kalau kalian sabar, aku akan mencarikan tanah yang lain,” kata paman.
Tapi wanita muda itu berkata, “Tidak usah, paman. Kami punya cukup uang untuk membeli tanah itu.” Wanita itu mengeluarkan uang dan meminta suaminya membeli tanah itu.
Malam itu suami isteri itu melihat tanah yang baru mereka beli.  Sang isteri mencabut jepit rambutnya dan membuat gambar rumah di tanah. Ketika ia menarik kembali jepit rambutnya, terdengar suara gemuruh dan bumi bergetar. Sekarang di depan mereka berdiri sebuah rumah besar yang indah dan megah.
“Ini rumah kita,” kata sang isteri, “ Ayo kita masuk.”
Rumah itu  sudah lengkap dengan perabotan yang indah. Di belakang rumah ada gudang  besar yang penuh bahan makanan . Di sampingnya berdiri sebuah kandang berisi belasan kuda. Mereka tinggal di sana dengan tenang dan bahagia.
Tiga tahun berlalu. Pada suatu hari, sang isteri berkata kepada suaminya. “Kita sudah lama menikah, tapi kita tidak dikaruniai anak. Kurasa kau harus mengambil seorang isteri lagi.”
Suaminya tidak setuju. “Aku bahagia hidup denganmu, walaupun kita tidak punya anak.”
“Kau tidak mengerti,” kata isterinya. “Aku tak akan lama hidup bersamamu.”
Wanita itu kemudian menjelaskan bahwa ia adalah landak yang dulu diselamatkan pemuda itu dari pemburu.  Ia mengubah dirinya menjadi manusia untuk membalas budi. Ia mendesak suaminya untuk mencari calon isteri. Pemuda itu pergi mencari calon isteri yang baik. Ia telah bertemu banyak sekali gadis namun tak ada yang menurutnya sebaik gadis landak, isterinya.
Pada suatu hari ia melihat seorang gadis yang menarik hatinya. Pemuda itu menemui ayah sang gadis untuk melamar. Ayah gadis itu seorang pedagang kaya.  Ia setuju anak gadisnya dipersunting sang pemuda, dengan satu syarat. Ia minta pemuda membawa tujuh kereta penuh uang perak. Pemuda itu kembali ke rumahnya dan menceritakan perjalanannya hingga menemukan seorang gadis. Ia menjelaskan syarat yang diminta ayah gadis itu. “Hanya itu syaratnya?” tanya gadis landak.
Esok harinya gadis landak meminta suaminya pergi ke rumah calon isteri barunya. Di halaman rumah sudah menunggu tujuh kereta lengkap dengan kuda dan kusir. Setelah menikah dengan puteri pedagang, pemuda itu membawa isteri barunya pulang. Mereka disambut hangat oleh gadis landak.
Esok harinya, gadis landak sudah tidak ada. Pemuda itu tidak pernah lagi melihat isteri pertamanya. Setahun kemudian, isteri keduanya melahirkan sepasang anak kembar seperti yang diinginkan gadis landak.