Tampilkan postingan dengan label Jean de La Fontaine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jean de La Fontaine. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Mei 2015

Biji Pohon Oak Dan Labu (Jean de la Fontaine)




     Seorang petani yang tinggal di desa suatu saat berpikir tentang besarnya sebuah labu dan kecilnya batang dimana labu tersebut tumbuh.

"Apa yang Tuhan pikirkan kira-kira ya?" katanya pada diri sendiri. "Tuhan mungkin menumbuhkan labu tersebut di batang yang kurang sesuai. Seandainya saya yang menciptakan labu ini, saya akan menumbuhkan dan menggantungnya di pohon oak. Seharusnya disanalah tempat yang tepat. Buah yang besar, sepantasnya berasal dari pohon yang besar! sayang sekali!" katanya kepada diri sendiri, "Sebagai contoh, biji pohon oak ini, yang sekecil jari tangan saya, seharusnya di gantungkan pada batang labu yang kurus ini." 

Karena terlalu banyak berpikir dan berangan-angan, petani tersebut menjadi mengantuk dan berbaring di bawah pohon Oak, dan tidak berapa lama kemudian, dia tertidur dengan pulas.

Saat itulah sebuah biji pohon oak jatuh tepat di atas hidungnya.Petani itu terkejut dan terbangun dari tidurnya sambil mengusap hidungnya yang kesakitan dan mengeluarkan darah.

"Aduh..aduh..!" teriaknya, "Hidungku berdarah, bagaimana seandainya sesuatu yang lebih berat jatuh dari pohon ini dan menimpa kepala saya; bagaimana seandainya biji pohon oak ini adalah sebuah labu? Saya tadinya meragukan ciptaanNya, sekarang saya telah mengerti semuanya dengan sempurna."
Lalu sang Petani itupun memuji dan bersyukur kepada Tuhan sambil berjalan pulang ke rumahnya.

Dua Orang yang Bertengkar dan Seorang Hakim (Jean de La Fontaine)





     Suatu hari, dua orang pengembara yang berjalan di tepi pantai, dan mereka melihat tiram yang terdampar di pantai akibat laut pasang.Kedua pengembara itupun menunjuk tiram tersebut dan berkata bahwa tiram itu adalah miliknya.Mereka saling dorong-mendorong dan berebutan untuk mengambil tiram tersebut.

"Secara hukum, siapapun yang melihat tiram ini terlebih dahulu, menjadi pemilik sah-nya dan berhak untuk menyantapnya, yang melihatnya belakangan, cukup menonton pemilik tiram ini makan." Kata pengembara pertama

"Kalau begitu, sayalah pemilik sahnya, karena saya yang melihat tiram ini terlebih dahulu," jawab temannya, "Untungnya saya memiliki mata yang jeli."

"Tetapi mata saya juga bagus," kata pengembara pertama lagi, "dan saya melihatnya sebelum engkau, saya berani bersumpah."

"Mungkin kamu memang melihatnya duluan, tetapi saya yang mencium baunya  duluan."

     Saat mereka berdebat, lewatlah seorang hakim dan kedua pengembara ini lalu meminta keadilan pada hakim tersebut.Sang Hakim mengambil dan memperhatikan tiram tersebut, membukanya, lalu menyantap isinya, sementara dua pengembara yang memperebutkan tiram tersebut, hanya bisa berdiri melongo. Setelah sang Hakim memakan isi tiram itu, ia pun berkata, "Pengadilan menentukan bahwa kalian masing-masing mendapatkan bagian dari kulit tiram ini, tanpa dipungut biaya apapun. Pulanglah kalian dalam keadaan damai."