Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Tikus Pembuat Onigiri (jepang)



      Pada zaman dahulu, ada sepasang Kakek dan Nenek yang hidup bahagia. Setiap pagi Kakek pergi ke gunung menebang kayu, lalu menjualnya ke kota. Dan Nenek membuatkan tiga bulatan onigiri yang sangat lezat untuk bekal sang kakek.


"Selamat bekerja, Kek. Hati-hati, ya!"
Nenek mengantarkan kepergian Kakek sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Terima kasih ya Nek, kalau aku makan onigiri buatan Nenek, tenagaku akan bertambah."

Kakek yang telah sampai di gunung berkata, "Permisi para pohon, aku akan mengganggu, aku akan menebang dahan-dahanmu yang kering."

     Kakek mulai menebang dahan-dahan kering, dan mengumpulkannya. Binatang-binatang datang berkumpul karena bau lezat yang disebarkan oleh onigiri-onigiri itu.
 
"Kalau ini sudah selesai, kita akan sarapan. Kalian pun akan kubagi."

Kelinci dan tupai yang rajin memakan onigiri-onigiri itu membantu Kakek mengumpulkan dahan-dahan kering.

"Terima kasih ya, semuanya. Sebentar lagi kita makan bersama."

     Lalu Kakek mengeluarkan onigiri-nya yang pertama dan bermaksud membagi dengan semuanya, masing-masing sedikit. Tetapi, tanpa sengaja, onigiri itu terlepas dari tangannya dan menggelinding.


"Ah, ah, onigiri itu!"

Onigiri yang amat berharga itu terus menggelinding ke lereng bukit.

"Hei onigiri....! Tunggu...!"

    Kakek pun berlari menuruni lereng bukit untuk mengejarnya, tetapi onigiri itu menggelinding semakin cepat. Binatang-binatang yang akan dibagi onigiri itu berteriak, "Ayo semuanya, tangkap onigiri itu!"

   Tupai, kelinci, kera dan rusa semuanya mengejar onigiri, tetapi onigiri itu terus menggelinding sampai akhirnya tiba di kaki gunung. Semuanya sudah menjadi lapar sekali. Onigiri itu menggelinding semakin pelan, dan "plung". Onigiri itu jatuh ke lubang.

"Eh, onigirinya jatuh ke lubang. Bagaimana ini?"

Kakek mengulurkan tangannya ke dalam lubang yang gelap, ia bermaksud mengambil onigirinya, tetapi tangannya tidak sampai.



Pada saat itu, dari dalam lubang terdengan suara musik gembira, "teng, teng, teng".

"Eh, ajaib!"

     Kakek dan binatang-binatang itu lupa akan rasa lapar mereka. Mereka memasang telinga mendengarkan suara musik yang keluar dari dalam lubang. Beberapa saat kemudian, musik itu berhenti. Kakek merasa kecewa, kemudian ia menjatuhkan onigiri kedua yang sebenarnya untuk makan malam. Suara musik itu kembali terdengar, "teng, teng, teng". 

"Wah, ini menyenangkan sekali! Aku jadi gembira."

Kakek menjatuhkan juga onigiri ketiga.

"Ah... ya, ya!"

     Binatang-binatang pun lalu menari. Kera meniru-niru gaya Kakek. Tubah dan tupai juga menari. Burung-burung kecil senang dengan musik itu, mereka semua bergembira. Ketika mereka semua sedang menari mengelilingi lubang itu, kaki Kakek terpeleset dan "bruk", Kakek jatuh ke dalam lubang.

"Kekek, selamat datang di negeri Tikus."

Di dasar lubang itu para tikus meletakkan lentera kertas dan menyambut Kakek.

"Pemimpin kami ingin mengucapkan terima kasih, mari kami antarkan kepadanya."

     Dengan dianta oleh tikus-tikus itu, Kakek masuk. Setelah keluar dari lorng yang gelap, tibalah Kakek di ruangan yang luas. Di sana telah menunggu Pemimpin tikus.

"Kakek, terima kasih untuk onigiri yang lezat. Sebagai tanda terima kasih, kami akan membuatkan makanan. Santa-santailah seperti di rumah sendiri."

Pemimpin Tikus memperlaukan Kakek sebaik mungkin.

"Coba lihatlah itu!"


    Ketika Kakek malihat ke arah yang ditunjuk oleh Pemimpin Tikus, ternyata di sana ada banyak sekali tikus-tikus yang membuat makanan dengan onigiri-onigiri dari Kakek.

"Tok tok! Ayo buat makanan yang lezat. Tok tok."

    Onigiri-onigiri Kakek telah berubah menjadi makanan-makanan kecil, dan ketika Kakek mencoba manghitungnya ada beratus-ratus. Kakek dibawa ke ruang tamu, dan di depannya telah terhidang makanan yang lezat. Lalu, musik pun dimulai dan gadis-gadis tikus yang cantik mulai menari.

"Karena onigiri, kita bisa membuat banyak makanan, ayo kita rayakan dengan gembira."

     Kakek dan Pemimpin Tikus menyanyi dan menari. Kakek mabuk karena sake, ia terus menari dan lupa akan waktu. Sayup-sayup terdengan bunyi genta dari kuil.

"Sudah senja. Nenek pasti sudah menunggu. Aku harus segera pulang, menjual kayu bakar ini dan membeli beras."

      Para tikus itu memberikan sebuah palu kayu keberuntungan kepada Kakek yang akan pulang.

"Palu ini adalah palu keberuntungan untuk memanggil kebahagiaan. Ambillah sebagai hadiah dari kami."
"Terima kasih atas jamuan dan hadiah ini."

Kemudian Kakek keluar dari lubang yang berbeda dengan ketika ia datang.

"Selamat jalan, Kek! Buatkan lagi kami bola nasi yang lezat, ya."

     Kakek berangkat untuk menjual kayu bakar dengan dilepas oleh para tikus. Kakek tiba di kota, segera pergi ke toko yang biasa membeli kayu bakarnya. 

"Sayang sekali, karena hari ini datang terlambat, aku sudah membeli dari orang lain." ujar pemilik toko

     Demikian juga dengan toko yang lain. Kakek berjalan berkeliling kota, tapi tidak sebatang pun kayu bakarnya terjual. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Kakek pulang menyusuri jalan dengan lunglai. Matahari senja mulai tenggelam.

"Malangnya aku. Aku sudah membuang-buang waktu. Kalau tadi aku menjual kayu akar, pasti aku bisa membeli beras dan sayuran. Pasti sekarang Nenek sudah menunggu-nunggu."

Sambil berjalan Kakek menyesali diri. Dengan kaki berat, akhirnya Kakek tiba di rumah.

"Selamat datang, Kek. Hari ini kau tentu letih seharian. Setelah mencuci kaki, makanlah, walaupun yang ada hanya ubi. Tidak apa, kan?"

    Sambil makan ubi, Kakek bercarita tentang bola nasi dan tikus-tikus ajaib itu. Tiba-tiba munculah tikus yang membawa lentera kertas. Nenek mendekap Tama, kucing mereka yang bertingkah ganas. 

"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Kakek.

"Ya. Palu kayu keberuntungan. Palu ini adalah palu ajaib, kalau ada yang Kakek inginkan, goyangkan saja palu ini."

    Setelah berkata demikian, tikus itu menghilang. Kakek segera berkata: "Makanan keluarlah!" Sambil berkata demikian, ia menggoyangkan palunya. Lalu muncullah makanan enak yang menggunung.



"Aduh, enaknya makanan-makanan ini. Aku belum pernah melihat makanan seperti ini. Pasti lebih enak jika dibandingkan dengan ubi."
 
    Kakek, Nenek dan Tama amat gembira sekali. Keesokan paginya, Kakek dan Nenek menggoyangkan palu kayu itu, lalu mereka memuat makanan yang banyak itu ke gerobak dan berkeliling desa. Mereka membagi-bagikannya kepada orang-orang yang miskin dan mereka yang membutuhkan. Karena merekalah, orang-orang desa yang miskin menjadi sehat. Selain itu, mereka semua menjadi giat bekerja, sehingga hasil sawah dan ladang mereka berlimpah-ruah.



      Kakek dan Nenek membuat banyak sekali onigiri dengan beras hasil panen mereka dan pergi ke lubang tikus sebagai tanda terima kasih. Lalu binatang-binatang hutan pun berdatangan dan mereka semua makan onigiri-onigiri itu. Saat itu, semua berbahagia dan bergembira.

Putri Tanabata (Jepang)





        Pada jaman dahulu kala, di suatu desa hiduplah seorang pemuda. Ia hidup dengan mengumpulkan kayu bakar di gunung atau membajak ladang. Pada suatu hari, pemuda itu menemukan benda yang aneh di tengah perjalanan pulang dari ladang.

“Apa ini? Oh, ini pakaian! Alangkah indahnya pakaian ini!”

       Ia belum pernah melihat pakaian seindah itu. Muncul keinginan untuk memiliki pakaian itu. Ia memasukkan pakaian itu ke dalam keranjang dengan hati-hati dan bersiap pulang ke rumah. Namun, ketika hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar suara seorang wanita.

 “Permisi…” kata wanita itu

“siapa itu?” kata sang pemuda

Saat itu juga dari semak-semak dekat kolam munculah seorang wanita yang sangat cantik jelita. pemuda itupun terkejut sekaligus terpesona oleh kecantikan wanita itu.
.
“Ya, saya memanggil Anda, Tuan.” kata wanita

“Ada apa?” kata pemuda

“Tolong kembalikan pakaian bidadari saya.”

“Pa-pakaian bidadari?” jawab pemuda itu dengan keheranan.

“Betul, kalau tidak ada pakaian bidadari itu, saya tidak bisa pulang ke langit.”
Wanita itu berkata dengan raut muka hampir menangis.

“Saya adalah wanita yang tinggal di langit. Saya bukan wanita dari dunia ini. Saya masuk ke dalam kolam ini dan mandi, tapi lupa waktu. Tolong kembalikan pakaian bidadari saya.”

“Pa-pakaian bidadari apa? A-aku tidak tahu apa itu.”

      Si Pemuda tidak mengatakan bahwa ia menyembunyikan pakaian bidadari, dan akhirnya terus berpura-pura. Bidadari yang menjadi tidak bisa pulang ke langit itu terpaksa tinggal di bumi dengan hati berat. Lalu ia pergi ke rumah pemuda dan mulai hidup bersama dengan pemuda. Bidadari itu bernama Tanabata. Selama hidup bersama munculah rasa cinta diantara pemuda dan bidadari itu. Hingga akhirnya Si pemuda dan Tanabata menikah dan menjadi suami-istri. Beberapa tahun telah berlalu. Pada suatu hari setelah si pemuda pergi bekerja di ladang, Tanabata melihat seekor merpati mematuki retakan balok langit-langit. Merpati itu menarik keluar suatu benda. Tanabatapun kemudian mendekati merpati itu untuk mengusirnya keluar. tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat benda yang ditarik-tarik oleh merpati itu adalah pakaian bidadarinya. Jika memakai pakaian bidadari, ia segera kembali menjadi bidadari. Sementara di dalam hatinya, Tanabata merasa telah kembali menjadi penghuni kahyangan.


     Hari menjadi sore. Pemuda yang pulang dari ladang terkejut menemukan Tanabata yang berdiri depan rumah. Ketika melihat pakaian bidadari itu, si pemuda segera mengerti apa yang terjadi.

“Sayangku, kalau kamu merasa mencintaiku, anyamlah seribu pasang sandal jerami dan kuburkan di sekitar pohon bambu. Dengan demikian, kita pasti akan bertemu lagi. Tolong…, lakukanlah…. Aku akan menunggu.” Ujar Tanabata

setelah mengatakan itu Tanabata kemudian melayang semakin tinggi, lalu kembali ke langit.

     Pemuda itu merasa sedih sekali. Lalu mulai keesokan harinya, ia segera membuat sandal jerami. Ia terus-menerus menganyamnya sepanjang hari. Setiap kali menghitung sandal jerami yang dianyam, ia berkata ‘belum cukup’, dan terus menganyam lagi, lalu menghitungnya lagi. Demikian berulang-ulang. Pada suatu hari, akhirnya ia selesai mengubur seribu pasang sandal jerami sekitar bambu. Begitu ia selesai mengubur sandal jerami, ternyata bambu itu langusng membesar dengan cepat dan tumbuh tinggi ke langit dengan kokoh.

“Oh, aku mengerti! Kalau aku terus memanjat ini, pasti bisa bertemu dengan Tanabata” Ujar sang pemuda

    Si pemuda dengan cepat mulai memanjat bambu yang menjulang tinggi itu. Pada saat jaraknya tinggal sedikit lagi untuk mencapai langit, ia tak kunjung bisa menjangkaunya.
Ternyata saat menganyam sandal jerami dengan perasaan ingin bertemu Tanabata, sandal jerami yang mesti dikubur sebanyak 1000 pasang hanya berjumlah 999 pasang saja. Jadi, tinggal selangkah lagi ia baru bisa menjangkaunya.


“Tanabata! Tanabata!”

Suara pemuda sampai ke telinga Tanabata yang sedang memintal dengan alat tenun di atas langit. Ia mencoba mengintip dari atas awan, dan betul, ternyata suara itu suara suaminya yang tercinta.

“Sayangku, sayangku!”

“Tanabata, Tanabata!”

Tanabata menjulurkan tangannya lalu mengangkat si pemuda ke atas awan.

“Tanabata, aku rindu padamu.”

Dua orang itu meraih tangan satu sama lain dan merasa bahagia.

Pada saat itu, muncullah muka seorang laki-laki di sela-sela awan. Ia adalah ayah Tanabata.

“Siapa laki-laki itu?” Tanya ayah Tanabata.

“Ini suami saya,” jawab Tanabata.

“Senang berjumpa dengan Anda,” ujar si Pemuda.

     Ayah Tanabata tidak suka putrinya menikah dengan laki-laki dari dunia bawah. Karena itu, ayah Tanabata berpikir untuk menyuruh Pemuda melakukan kerja yang sulit untuk menyusahkan si Pemuda.

“Hmm! Jadi kamu melakukan kerja apa di dunia bawah?”

“Saya bekerja di ladang atau gunung.”

“Kalau begitu baiklah. Aku minta kamu mengerjakan ini.”

    Ayah Tanabata menyuruh si Pemuda menaburkan biji-biji di ladang dalam tiga hari. Pemuda itu berusaha, lalu selesai menaburkan biji-biji dalam tiga hari seperti diminta. Tapi ayah Tanabata berkata lagi,


“Aku bilang menaburkan biji-biji di sawah sebelah sana.”

    Pemuda itu kecewa sekali. Tanabata yang melihat keadaan ini merasa ingin membantu suaminya. Lalu ia meminta bantuan seekor merpati.

“Tolong panggil kawan-kawanmu dan taburkan biji-biji yang ada di ladang ke sawah.”

    Merpati itu mengumpulkan kawan-kawannya dan mematuki biji-biji di ladang. Lalu terbang ke atas sawah dan menaburkan biji-biji itu dari atas. Pekerjaan ini selesai dalam sekejap mata.

     Kali ini Ayah Tanabata yang merasa kesal menyuruh kerja yang lebih sulit lagi. Ia meminta si Pemuda supaya menjaga ladang labu selama tiga hari tiga malam. Kalau menjaga ladang labu biasanya akan merasa sangat haus. Tetapi kalau labu itu dimakan, akan terjadi masalah yang gawat.

“Pokoknya jangan makan labu!” pesan Tanabata.

     Namun, walaupun si Pemuda telah diberitahu oleh Tanabata, ia tidak bisa menahan rasa hausnya. Akhirnya ia tidak tahan lagi dan memakan buah labu itu. Dalam sekejap mata, air tumpah dari labu itu. Air yang tumpah itu menjadi sungai dan mulai mengalir dan mengeluarkan suara yang bergemuruh.

“Sayangaku!”

“Tanabata!”

 Seketika itu juga Tanabata dan si Pemuda terpisah secara tiba-tiba. Dengan demikian, sosok dua orang yang berhadap-hadapan mengapit sungai itu menjadi bintang Altair dan Vega. Kedua orang ini mendapat izin ayah Tanabata untuk bertemu hanya sekali dalam setahun, yaitu pada malam hari tanggal 7 Juli. Kedua bintang itu sampai sekarang pun masih nerkilau-kilauan indah, mengapit bimasakti.