Rabu, 15 Oktober 2014

Si Pahit Lidah (Sumatera Selatan)





Pada jaman dahulu kala, di daerah Sumidang, Sumatera Selatan, terdapat sebuah kerajaan besar. Di Kerajaan itu terdapat seseorang pangeran yang bernama Serunting. Serunting adalah keturunan dari Raksasa yang bernama Putri Tenggang. Sifat Pangeran Serunting adalah mempunyai rasa iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Ia hidup dengan istrinya di kerajaan.Pangeran Serunting memiliki seorang adik ipar atau adik dari istrinya yang bernama Aria Tebing.

Serunting memiliki sebuah ladang,begitu pula dengan Aria Tebing. Letaknya bersebelahan dan hanya dipisahkan dengan pepohonan. Di bawah pepohonan itu tumbuhlah tanaman Cendawan atau Jamur. Namun,Cendawan yang tumbuh itu menghasilkan hal yang jauh berbeda. Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan Cendawan yang menghadap kearah Ladang milik Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna. Hal ini menimbulkan rasa iri pada hati Serunting.

“Mengapa Cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna? Sedangkan yang menghadap kearah ladang milik Aria Tebing tumbuh menjadi logam emas. Ini pasti perbuatan Aria Tebing”.

Keesokan harinya, Serunting menghadap Aria Tebing dengan perasaan dendam dan marah.

”Hai Aria Tebing,kamu telah brbuat curang kepadaku. Aku tidak terima cendawan yang tumbuh di pepohonan pembatas itu, yang menghadap kearah ladangmu tumbuh menjadi logam emas, sedangkan cendawan yang menghadap ke ladangku tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna. Ini pasti perbuatan curangmu bukan?!” ucap Serunting kepada Aria Tebing.
 
”Tidak,tidak,Aku tak pernah berbuat curang kepadamu”ujar Aria Tebing membela diri.

”Sudahlah,kamu jangan berbohong!dua hari lagi, kita akan berduel,bersiaplah kamu Aria Tebing” ucap Serunting menantang Aria Tebing.

Setelah itu, Serunting meninggalkannya. Aria Tebing kebingungan. Ia mencari ide agar dapat mengalahkan Serunting. Ia tahu bahwa Serunting itu adalah orang yang sakti.

“Bagaimana aku bisa mengalahkan Serunting? Serunting itu orang sakti, tak mungkin aku bisa mengalahkannya”. Ujar Aria dalam hati

Setelah lama berpikir,akhirnya Aria Tebing mendapat ide. Ia membujuk kakaknya (istri dari Serunting) untuk memberitahukan rahasia kelemahan Serunting.

“Wahai kakakku, beritahukanlah rahasia kelemahan suamimu, Serunting, Beritahukanlah! Aku dalam keadaan terdesak, suamimu akan menantangku untuk bertanding. Kalau aku kalah,pasti aku akan terbunuh” kata Aria

”Maaf adikku, aku tak akan mau mengkhianati suamiku, aku tidak mau memberitahukannya”ucap istri dari Serunting.

“Tetapi,bila kau tidak memberitahukannya, nanti aku dibunuh olehnya, aku tidak akan membunuhnya”bujuk Aria Tebing.

”Baiklah, akan kuberitahukan. Kesaktian Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin”jawab Istri Serunting memberitahukan kesaktian suaminya.

”Terima Kasih, Kak, kau telah menyelamatkanku”ucap Aria Tebing berterima kasih.

Keesokan harinya, Serunting menemui Aria Tebing untuk mengadu kekuatan. Sebelum bertanding, Aria menancapkan tombaknya ke ilalang yang bergetar meskipun tak tertiup angin. Serunting pun terluka parah. Merasa dikhianati istrinya, Serunting pergi mengembara. Saat ia sampai di Gunung Siguntang, ia berhenti dan bertapa disana. Saat sedang bertapa, ia mendengar suara bisikan gaib.

“Hai Serunting, maukah kau mendapatkan kekuatan Gaib? Kalau kamu mau, aku akan menurunkan ilmu itu kepadamu”.

Suara itu tak lain adalah suara Hyang Maha Meru. Serunting pun menjawab dan bertanya.

“Baiklah, wahai Hyang Mahameru, aku mau kekuatan itu”. Jawab Serunting

”Tapi, ada satu persyaratan, Kamu harus bertapa dibawah pohon bambu, setelah tubuhmu ditutupi oleh daun-daun dari pohon bambu itu, kamu berhasil mendapatkan kekuatan itu” ucap Hyang Mahameru.

”Baiklah, aku menerima persyaratan itu” ucap Serunting.

Serunting pun bertapa dibawah pohon bambu. Tak terasa, dua tahun telah berlalu. Serunting masih bertapa, belum beranjak dari tempatnya bertapa, yaitu di pohon bambu. Daun-daun dari pohon bambu sudah menutupinya. Serunting pun sadar dan beranjak dari tempat itu. Kini kesaktian yang dimilikinya adalah setiap perkataan yang keluar dari mulutnya akan menjadi kenyataan dan kutukan. Pada suatu hari, ia berniat ingin pulang ke kampung halamannya, Sumidang. Dalam perjalanannya, ia mengutuk semua pohon tebu menjadi batu.

“Hai pohon tebu, jadilah Batu”.

Dalam sekejap,pohon-pohon tebu tersebut menjadi batu. Di sepanjang tepi Sungai Jambi, ia mengutuk semua orang yang ia jumpai menjadi batu. Serunting menjadi orang yang angkuh dan sombong. Oleh karena itu,orang-orang menjulukinya dengan nama “Si Pahit Lidah. Saat ia tiba di sebuah Bukit yang bernama Bukit Serut, ia mulai menyadari kesalahannya. Ia mengubah Bukit Serut yang merupakan bukit yang gundul menjadi hutan kayu.


“Wahai Bukit Serut yang gundul, jadilah kau menjadi bukit yang ditumbuhi hutan kayu!”.

Dalam sekejap, bukit itu berubah menjadi hutan kayu. Orang-orang berterima kasih pada Serunting karena telah mengubah Bukit yang gundul itu menjadi Hutan Kayu karena mendapatkan hasil kayu yang melimpah. Saat Serunting tiba di sebuah desa yang bernama Desa Karang Agung, ia melihat sebuah gubuk tua. Di gubuk itu tinggalah sepasang Suami Istri yang sudah tua renta. Mereka hidup sangat miskin. Meskipun mereka sudah tua, mereka bekerja keras mengangkut kayu bakar. Merasa kasihan, Serunting mendatangi sepasang suami istri tua renta itu. Serunting berpura-pura meminta seteguk air minum.


Oleh sang nenek, Serunting diberi seteguk air minum. Karena kebaikannya, Serunting akan mengabulkan apa saja yang mereka minta. Mereka hanya ingin dikaruniai seorang anak untuk membantu mereka bekerja. Ketika melihat ada sehelai rambut yang rontok menempel pada baju sang nenek, Serunting mengambilnya. Serunting mengubah rambut itu menjadi seorang bayi.

“Wahai rambut, jadilah engkau seorang bayi!”.

Pasangan tua itu berterima kasih kepada Serunting.
“Terima kasih nak, semoga engkau diberkahi Tuhan”.

    Serunting bahagia bisa membantu orang lain. Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya berbuah manis, orang orang masih menjulukinya dengan nama Si Pahit Lidah. Serunting melanjutkan perjalanannya ke Sumidang. Di sisa perjalanannya, Serunting belajar untuk membantu orang lain dan berusaha menolong orang yang kesulitan.

Tidak ada komentar: