Minggu, 05 Oktober 2014

Asal Usul Burung Moopoo (Sulawesi Utara)


Alkisah pada jaman dahulu kala, di sebuah tempat di Minahasa hidup seorang kakek bersama cucuya yang bernama Nondo. Mereka tinggal di sebuah rumcah kecil yang sederhana di sekitar hutan besar. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sang kakek setiap hari pergi ke hutan untuk mencari hasil hutan dan menjualnya di pasar. Sementara Nondo yang pincang kakinya hanya bisa menbantu dengan cara memasak dan membersihkan rumah. Nondo memang anak yatim piatu. Ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat masih kecil. Ia dibesarkan oleh kakeknya.

Nondo setiap kali melihat kakeknya pergi ke hutan merasa sedih karna ia tidak bisa membantu mencari kayu bakar dan hasil hutan lainnya. Karna ia tidak bisa berjalan jauh. Ia juga ingin melihat berbagai macam hewan yang ada di hutan yang sering diceritakan kakeknya. Setiap ia mendengarkan cerita kakeknya ia selalu terpana dengan apa yang ada di hutan. Ia hanya bisa membayangkan berbagai hewan yang diceritakan oleh kakeknya. Ia juga sering bermimpi bertemu dengan berbagai macam hewan yag diceritakan kakeknya. Bahkan ia senang menirukan bunyi hewan-hewan itu. Pada suatu hari,seperti biasanya,sang kakek akan pergi ke hutan untuk mencari hasil hutan. Nondo pada hari itu sudah tidak tahan lagi untuk secepatnya melihat hal-hal apa saja yang ada di hutan.

”Opak! Nondo iko kwak ka utang deng opak?” pinta Nondo kepada kakeknya.

”Ngana di rumah jo kwak Nondo,” jawab sang Kakek.

”Mar opak! Kita suka skali mo lia itu binatang-binatang yang opak ada carita-carita pa nondo”

”Jangan kwak ! Ngana pe kaki ada saki to? Opak tako dengan ngana pe kesehatan.”

”Opak! Nondo minta satu kali ini jo kwak mo iko dengan opak ne?” bujuk Nondo sambil merengek-rengek.

Oleh karena kasihan melihat Nondo, akhirnya kakeknya pun mengizinkannya.

”Io dang! Ngana boleh iko pa opak mar musti kase kalar dulu itu ngana pe karja di rumah ne,” ujar sang Kakek.

Dengan semangat Nondo pun langsung saja melaksanakan tugas-tugasnya. Tak berapa lama ia telah menyelesaikan seluruh tugas yang ada.

”Opak! Manjo torang pigi! Nondo pe karja so kalar,” seru Nondo.

”Io!” jawab sang Kakek singkat dengan perasaan khawatir.

Merekapun langsung menuju hutan. Sang Kakek berjalan di depan, sedangkan Nondo mengikutinya dari belakang. Ketika memasuki hutan, Nondo seringkali tertinggal oleh kakeknya, karena selain kakinya pincang, ia juga sering berhenti setiap melihat binatang. Bahkan, ia kerap bermain-main dan menirukan suara binatang yang ditemuinya. Oleh karena keasyikan bermain-main dengan binatang itu, sehingga ia semakin jauh tertinggal oleh kakeknya.

Awalnya Nondo tidak sadar bahwa kakeknya sudah terpisah dengan dia. Haripun semakin gelap,keadaan hutan mulai mencengkam dengan adanya suara-suara hewan yang menakutkan.

”Opak...!opak...!opak...!Di mana opak?” teriak Nondo memanggil kakeknya sambil menangis.

Nondo berteriak-teriak namun tak terdengar jawaban dari kakeknya. Ia mencoba mencari jalan untuk ke rumahnyatapi semakin ia berjalan semakin ia masuk ke dalam hutan.

Malam semakin larut tapi Nondo belum menemukan kakeknya. Suara berbagai binatang yang ia sering dengar dari kakekya menjadi menyeramkan.Apalagi ketika ia mendengar suara burung kuow yang keras dan menyeramkan. Ia pun menangis dan berteriak sekeras-kerasnya agar suaranya didengar oleh kakeknya. Usahanya sia-sa saja karna ia tidak mendapat jawaban dari kakeknya.

Sementara sang kakek merasa cemas begitu mengetahui bahwa cucu kesayangannya itu sudah tidak berada di belakannya.

”Nondo...! Nondo...! Ngana di mana?” teriak sang Kakek.

Beberapa kali pula kakek itu berteriak, namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang, karena mengira cucunya sudah kembali ke rumah. Namun sesampai di rumah, ia tidak menemukan cucunya. Pada pagi harinya, sang Kakek kembali ke hutan untuk mencari cucunya. Hingga sore hari, ia berkeliling di tengah hutan itu sambil berteriak-teriak memanggil cucunya, namun tidak juga menemukannya. Oleh karena merasa putus asa, akhirnya ia pun kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mendengar suara yang aneh.

`moo-poo..., moo-poo..., moo-poo….!” terdengar suara burung aneh itu.
”Suara binatang apakah itu? Sepertinya baru kali ini aku mendengarnya,” gumam Kakek Nondo.

Oleh karena penasaran, kakek itu segera mencari sumber suara aneh itu. Setelah berjalan beberapa langkah, ia pun menemukannya. Ternyata suara itu adalah suara seekor burung yang sedang hinggap di atas pohon. Kakek itu terus berjalan mendekati pohon untuk melihat burung itu lebih dekat.

”Burung apakah itu? Sudah puluhan tahun aku mencari kayu di hutan ini, tapi aku belum pernah melihat jenis burung seperti itu,” gumamnya.

Sementara burung itu terbang dari satu cabang ke cabang yang lain sambil memerhatikan sang Kakek dan mengeluarkan suara, ”moo-poo”. Semula kakek Nondo tidak mengerti maksud suara itu. Namun setelah lama memerhatikan suara itu, ia pun mulai menyadari jika burung itu memanggilnya opoku (kakekku). Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali mengamati burung itu. Setelah ia amati, rupanya kaki burung itu pincang. Tiba-tiba kakek itu menangis karena teringat cucunya. Ia yakin bahwa burung itu adalah jelmaan cucunya, Nondo. Sesuai dengan suara yang dikeluarkan, maka burung itu diberi nama moopoo. Hingga saat ini, burung moopoo dapat ditemukan di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.

Asal Muasal Danau Lipan (Kalimantan Timur)





Pada jaman dahulu kala, Muara Kaman merupakan lautan. Di sana berdirilah sebuah kerajaan dengan Bandar di tepi laut yang ramai. Tersebutlah seorang puteri cantik bernama Puteri Aji Berdarah Putih. Kata yang empunya cerita, disebut demikian karena jika sang Puteri memakan sirih, maka air sepah berwarna merah yang ditelannya akan terlihat saat mengalir. Kecantikan itu tersebar ke seantero negeri dan kerajaan di luarnya.

Alkisah, ketenaran sang Puteri sampai juga ke telinga seorang Raja Cina dari negeri seberang. Maka sang Raja Cina segera membaw abala tentara mengarungi lautan dengan sebuah jung besar untuk melamar Puteri Aji Berdarah Putih. Kehadiran sang Raja Cina disambut dengan meriah. Puteri nan jelita menyambut sang tamu dengan pesta makan yang meriah. Tarian-tarian dan nyanyian disajikan juga untuk menambah meriahnya pesta. Alangkah gembiranya sang Raja menerima sambutan yang demikian meriah itu. Sang Puteri jelita memang tahu bahwa kehadiran Raja Cina itu tak lain adalah untuk mempersuntingnya. Akan tetapi begitu melihat gerak-gerik dan cara melahap makanan, Sang Puteri sontak menjadi jijik tak terkira. Alangkah tidak lazimnya cara makan Raja Cina itu yang tidak bedanya dengan cara anjing menyantap makanan.

 
Bukan saja saja sang Puteri merasakan jijik, bahkan ketika lamaran diajukan, sang Puteri juga merasa terhina. Tentu saja tidak sepantasnya raja terhormat punya tabiat seperti binatang. Lamaran itu bagaikan tamparan bagi sang Puteri. Namun, penolakan disertai murka itu juga ditanggapi amarah pula oleh Raja Cina. Ia sakit hati. Darah mengalir ke ubun-ubun saat menghadapi rasa malu yang luar biasa itu. Tangannya menggenggam seolah ingin dihantamkan pada apa saja yang ada di hadapannya. Sepulang dari sana, ia memerintahkan panglima perangnya untuk menyerang kerajaan Puteri Aji Berdarah Putih. Pertempuran pun tak dapat dielakkan. Beribu-ribu prajurit Raja Cina merangsek bagaikan gelombang laut yang ganas.

Menghadapi serangan itu, prajurit sang Puteri jelita tak mau kalah. Gempuran dahsyat itu ditandinginya dengan kegagahberanian yang luar biasa. Makin lama sang Puteri cemas melihat gelombang serangan prajurit Raja Cina yang tak bisa ditandingi tentara perangnya yang jumlahnya jauh lebih sedikit. Puteri takut tak lama lagi tentaranya akan tumpas. Maka, sebagai titisan raja sakti ia pun mulai bangkit di saat tindasan makin berat. Ia mengambil kinang dari wadahnya. Kemudian ia mengunyah sirih sambil mengucapkan mantera-mantera sakti. Mulutnya berkomat-kamit dan matanya yang indah terpejam. Tak lama kemudian sang Puteri menyemburkan sepah-sepah sirih ke segala penjuru arah.

Ajaib! Sepah-sepah itu tiba-tiba menjelma jutaan lipan ganas yang menyerang barisan besar prajurit Raja Cina. Lipan-lipan itu kini menjadi barisan tentara yang mengambil alih barisan para tentara Puteri Aji yang mulai terdesak. Dalam waktu sekejap tentanra Raja Cina lumpuh oleh keganasan lipan-lipan itu. Sebagian yang tersisa lari tunggang langgang meninggalkan daerah itu. Namun serang lipan-lipan itu memburu hingga sampai ke laut, tempat prajurit menyelamatkan diri di jungnya. Perahu mereka pun tenggelam. Seluruh laskar Raja Cina tumpas. Tempat yang menenggelamkan jung Raja Cina itu menjadi padang luas yang menyatu dengan laut. Syahdan, tempat itu hingga kini disebut Danau Lipan

Semangka Emas (Kalimantan Barat)




Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.
 
Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan. Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.
 
Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan.

"Kasihan,Sayapmu patah, ya?" kata Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. 

Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. 

"Biar kucoba mengobatimu," kata Dermawan.

 Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.

Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.

Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.

Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.

Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

Jumat, 03 Oktober 2014

Legenda Pulau Kapal (Sumatera Selatan)







Dahulu,di dekat sungai Cecuruk,hiduplah sebuah keluarga yang sangat miskin.Mereka terdiri dari Ayah,Ibu,dan seorang anak laki-laki yang bernama Kulup.Mereka hidup dengan menjual buah-buahan dan dedaunan ke pasar.Buah-buahan dan dedaunan tersebut mereka dapatkan dari hutan.Mereka juga memakan Rebung yang mereka dapatkan dari hutan dan Rebung itu mereka olah menjadi sayur.Rebung adalah anak pohon bambu yang masih kecil dan Muda.

Kulup merupakan anak yang rajin.Ia sangat rajin dan senang membantu orangtuanya mencari nafkah.Keluarga ini hidup saling menyayangi dan membantu.Karena itu,meski keluarga ini miskin,mereka tidak pernah merasa menderita. Pada Suatu hari,sang ayah pergi untuk mencari rebung di sawah untuk diolah menjadi sayur dan mereka bertiga makan.”Bu,aku akan pergi mencari rebung di hutan untuk kita makan.Jaga Kulup baik-baik ya.”pamit sang suami kepada istrinya.”Baiklah ayah,Aku akan menjaga Kulup baik-baik”Jawab sang istri.

Sesampai di hutan,sang ayah mulai menebang Rebung.Saat menebang Rebung, Sang Ayah saat melihat sebatang tongkat yang berada di rumpun bambu.Saat sang ayah akan membuangnya,ia melihatnya dengan teliti ”Tongkat apa ini?”pikirnya.Ia membersihkan tongkat itu.Alangkah terkejutnya dengan apa yang ia lihat,yaitu adalah kilauan permata dan berlian yang menempel pada tongkat itu

”Wah,siapakah pemilik tongkat ini,pasti dia merasa kehilangan,atau,aku bawa pulang saja tongkat ini”.Sang Ayah lalu memutuskan untuk membawa pulang rebung dan tongkat itu.

Sesampainya di rumah,Sang Ayah merundingkan benda yang didapatkannya tadi dengan keluarganya.”Mau disimpan dimana tongkat ini?Kita kan tidak punya lemari”tanya Ayah Kulup,”Kalau kita simpan di luar,nanti dicuri orang”ucap sang istri.

“Begini saja,bagaimana kalau kita jula saja tongkat ini ke kota?”usul Si Kulup.Ayah dan Ibunya menyetujuinya.Mereka lalu menyuruh Kulup untuk menjualnya ke kota.

Si Kulup lalu pergi berlayar ke kota.Disana,ia menjual tongkat itu hingga dibeli oleh seorang saudagar kaya dengan harga yang mahal.Tetapi,Si Kulup tidak mau pulang ke rumahnya,melainkan tinggal di rantauan. Menjadi orang yang kaya raya. Kehidupan Kulup berubah.Ia berteman dengan para bangsawan dan saudagar kaya.Kulup kemudian mempersunting gadis yang merupakan putri dari saudagar kaya.Karena kehidupannya yang serba mewah,Kulup menjadi lupa akan kampong dan kedua orangtuanya. Kulup lalu membeli sebuah kapal besar yang mewah dan mempersiapkan para awak kapal untuk dibawanya pergi berlayar.Mertuanya pun merestuinya.Setelah itu,berangkatlah Kulup bersama istrinya dan para awak kapalnya.Kulup membawa binatang-binatang untuk perbekalan seperti ayam,itik,angsa,burung dan binatang lainnya.

Ketika tiba di muara Sungai Cecuruk,Kulup teringat akan kampung halamannya.Kapalnya kemudian berlabuh di Sungai Cecuruk.Suasana kapal itu ramai dengan suara binatang-binatang bawaan Si Kulup. Berita tentang kedatangan Si Kulup sampai ke kedua orangtuanya.Orangtuanya pun pergi ke Sungai dengan membawa makanan kesukaan Si Kulup.Kedua Orangtuanya lalu pergi menemui Si Kulup. Namun,Si Kulup tidak mau mengakui orangtuanya.Ia malu kalau istrinya tahu bahwa orangtuanya adalah orang yang miskin.Ia menyuruh pengawalnya untuk mengusir Kedua Orangtua Si Kulup.Orangtuanya lalu memberikan Si Kulup makanan kesukaannya.Tetapi,Kulup membuang makanan itu dan berkata “Makanan,apa ini,aku tidak suka makanan gembel seperti ini”

 Orangtuanya pun pulang dengan hati remuk redam.Orangtuanya pun berdoa”Ya Tuhan,bila benar saudagar kaya itu adalah anakku,karamkanlah kapal milik saudagar itu”.Tak berapa lama,hujan turun disertai angina yang berembus kencang.Kapal milik Si Kulup dihantam ombak besar.Kapal itu pun oleng.Penumpangnya panik dan tewas.Kapal itu kemudian menjelma sebagai Pulau yang berbentuk kapal,dan pulau itu dinamakan Pulau Kapal.

Senin, 29 September 2014

Dongeng Anak Dunia: Issun Boshi ( Jepang )

Dongeng Anak Dunia: Issun Boshi ( Jepang ):            Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak. Suatu hari mereka pergi ke sebuah kuil ...